PALEMBANG – Kuasa hukum Junaidi alias Ajun, Benny Murdani, S.H., M.H., memberikan klarifikasi terkait video yang viral di media sosial dan menjadi perbincangan publik. Menurutnya, potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan rangkaian peristiwa sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Benny dalam konferensi pers yang digelar di Kopitiam Golf Palembang, Sabtu (6/6/2026).
Benny menjelaskan, peristiwa yang menjadi sorotan publik itu bermula dari dugaan penggelapan kendaraan milik Junaidi yang telah lebih dahulu dilaporkan ke Polsek Sukarame.
"Perlu kami luruskan bahwa narasi yang berkembang di media sosial seolah-olah klien kami melakukan penganiayaan tanpa sebab. Faktanya, kejadian ini berawal dari dugaan penggelapan mobil milik klien kami yang telah dilaporkan secara resmi ke Polsek Sukarame," ujar Benny.
Menurutnya, terduga pelaku sebelumnya melamar pekerjaan sebagai sopir di perusahaan milik Junaidi dan kemudian diterima bekerja.
Dalam menjalankan tugasnya yang bersangkutan diberikan kepercayaan untuk menggunakan kendaraan operasional beserta uang bahan bakar.
Namun, kendaraan tersebut diduga tidak dikembalikan sebagaimana mestinya dan justru dibawa pergi tanpa izin.
Setelah dilakukan pelacakan melalui sistem GPS, mobil tersebut akhirnya ditemukan di wilayah Desa Langkan, Kabupaten Banyuasin.
"Mobil berhasil ditemukan kembali di wilayah Langkan melalui pelacakan GPS," jelasnya.
Benny mengungkapkan, setelah mengetahui kendaraannya diduga dibawa kabur, Junaidi sempat terpancing emosi saat bertemu dengan terduga pelaku.
Dalam situasi tersebut terjadi tindakan spontan yang kemudian terekam dalam video yang beredar luas di media sosial.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan merupakan perbuatan yang direncanakan, melainkan reaksi sesaat akibat tekanan emosional setelah merasa mengalami kerugian.
"Itu murni reaksi spontan yang dipicu emosi. Tidak ada niat maupun perencanaan sebelumnya untuk melakukan penganiayaan," tegas Benny.
Ia juga menyayangkan beredarnya potongan video yang dinilai hanya menampilkan sebagian kejadian tanpa memperlihatkan latar belakang persoalan yang sebenarnya.
"Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara utuh dan berimbang, tidak hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial. Semua fakta dan kronologi harus dipahami secara menyeluruh agar tidak menimbulkan penilaian yang keliru," katanya.
Sementara itu, Junaidi turut menyampaikan penyesalannya atas insiden tersebut. Ia mengakui bahwa dirinya terbawa emosi saat mengetahui kendaraan miliknya diduga digelapkan.
"Saya menyesalkan kejadian itu. Saat itu saya sedang emosi karena merasa sangat dirugikan akibat kehilangan kendaraan. Apa yang terjadi merupakan reaksi spontan dan bukan sesuatu yang direncanakan," ujar Junaidi.
Hingga saat ini kasus dugaan penggelapan kendaraan maupun peristiwa yang terekam dalam video viral tersebut masih dalam proses penanganan aparat kepolisian untuk mendapatkan kepastian hukum sesuai ketentuan yang berlaku.